Wahai desiran Sayo Nara
Yang tak pernah layu mengikis waktu
Teguklah tetes embun pagi
Agar hari semakin angkuh
Basuhlah luka-luka sayatan
Dengan air telaga kasturi
Mungkin lekuk-lekuk memori kan sangat berarti
Menyelimuti sampan di ujung tak bertepi
Biarlah bunga di taman
Bercanda ria dengan pagar si Petani
Sedang Musafir tersuruk di alunan pasir
Berteman ringkihan angin musim kemarau
Dan hapuslah riak kegelapan waktu
Karena di sana mentari ridu akan belaian senyum
Meski bulanku menangis tertiup sang Fajar
Yang tak pernah layu mengikis waktu
Teguklah tetes embun pagi
Agar hari semakin angkuh
Basuhlah luka-luka sayatan
Dengan air telaga kasturi
Mungkin lekuk-lekuk memori kan sangat berarti
Menyelimuti sampan di ujung tak bertepi
Biarlah bunga di taman
Bercanda ria dengan pagar si Petani
Sedang Musafir tersuruk di alunan pasir
Berteman ringkihan angin musim kemarau
Dan hapuslah riak kegelapan waktu
Karena di sana mentari ridu akan belaian senyum
Meski bulanku menangis tertiup sang Fajar
“Bujang Lara”
0 komentar:
Posting Komentar