Wanita sering kali menjadi perbincangan di khalayak umum adany a gendere menjadi pemicu pro-kontra yang tak pernah ada ujung pangkalnya.
Pada abad ke21 setelah diresmikannya genre, peran wanita makin berkembang mereka mulai dipercaya untuk menjadi pemimpin. Mereka bebas berkarier bebas berasumsi dan bebas berapresiasi dan tak sedikit dari mereka eksistensinya melebihi kaum Adam.
Saatnya bangkit dengan revolusi baru sebagai manifestasi dari jiwa kartini yang terus hidup dan terus berkembang. Wanita tidak harus duduk manis menunggu keajaiban tuhan tetapi merka juga haru tetap eksis di dunia global yang sarat akan edukasi. Setidaknya mereka bisa menghapus statement-statement yang masih berbau primitive, seperti halnya 3D (wanita hanya di dapur, disumur, di kasur ).
Islam mengakui kapabilitas dan kemampuan ekonomi perempuan dan menjadikan perempuan menjadi saudara kandung laki-laki islam juga menyukai kamampuan social perempuan dan kemampuan beribadah dan taklid syar’I Sehingga kaum perempuan mampu berperan dalam kehidupan bermasyarakat. Juga tidak tidak di kontro versikan bahwa islam berdasarkan sunnah nabi telah memberikan peran yang besar kepada kaum perempuan untuk terus menentukan nasib umat, seperti halnya Ummu salamah yang telah memberikan nasehat berharga pada nabi SAW. Ketika menghadapi situasi yang kritis pada masa penyebaran islam Umulmu’minin “Aisyah binti Abu Bakar” gadis kecil nabi dengan julukan humairah ini banyak mengkoleksi hadist dan dan di beri kepercayaan penuh untuk meriwayatkan.
Sebagian besar koleksi hadits yang sampai pada kita diriwayatkan oleh perempuan namun kaum muslim yang hidup dalam perangkap kejahiliyahan masa kini dan masa lalu selalu membatasi hak asasi perempuan muslim atas nama agama.
Siapa yang tidak kenal St. Khatijah sebagai penguiasa sekaligus istri Nabi yang sangat beliau cintai disamping mad supported nabi dia juga tidak segan-segan menginvestor kan hartanya untuk perjuangan islam. Atau mungkin anda masih ingat kisah Robiatul Al-Adawiyah wanita sufi yang mengorbankan matanya karena saking takut akan berbuat maksiat pada sang khaliq mereka semua adalah penegakdan pejuang islam yang patut dijadikan suru tauladan.
Wanita tidak lagi dimarjinalkan
Tidak sedikit dari ywanita yang berkarier menurut kamus bahasa Indonesia (depdikbud, 1988) karier adalah perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan peran wanita semakin penting baik di lingkungan keluarga maupun di bidang social politik demikian juga di bidang ketatanegaraan, semakin banyak tenaga kerja wanita yang memasuki pasar kerja dan menduduki jabata-jabatan penting oleh karena itu perempuan tidak harus mender atau merasa termajinalkan dari pada kaum laki-laki jelas dalam al-quran tentang kesejajaran antara perempuan dan laki-laki firman Allah yang artinya :
“Dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan sesungguhnya usaha kamu memang berbeda, adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan pahala yang terbaik (syurga) maka kami kan menyiapkan baginya jalan yang mudah dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak kami kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. (Qs. Al-lail 3:10)
Ayat diatas menyebutkan laki-laki dan perempuan dalam kosam yang merupakan bukti (Qarinah) bahwa islam melihat persamaan antara keduanya yang perbedaannya hanya terletak pada perbuatan amalnya, apakah baik atau buruk namun, perlu diingat meskipun demikian tidak bisa dipungkira “seorang perempuan tidak boleh melampaui qodrat yang sudah di tetapkan oleh syariat islam”.
Pada abad ke21 setelah diresmikannya genre, peran wanita makin berkembang mereka mulai dipercaya untuk menjadi pemimpin. Mereka bebas berkarier bebas berasumsi dan bebas berapresiasi dan tak sedikit dari mereka eksistensinya melebihi kaum Adam.
Saatnya bangkit dengan revolusi baru sebagai manifestasi dari jiwa kartini yang terus hidup dan terus berkembang. Wanita tidak harus duduk manis menunggu keajaiban tuhan tetapi merka juga haru tetap eksis di dunia global yang sarat akan edukasi. Setidaknya mereka bisa menghapus statement-statement yang masih berbau primitive, seperti halnya 3D (wanita hanya di dapur, disumur, di kasur ).
Islam mengakui kapabilitas dan kemampuan ekonomi perempuan dan menjadikan perempuan menjadi saudara kandung laki-laki islam juga menyukai kamampuan social perempuan dan kemampuan beribadah dan taklid syar’I Sehingga kaum perempuan mampu berperan dalam kehidupan bermasyarakat. Juga tidak tidak di kontro versikan bahwa islam berdasarkan sunnah nabi telah memberikan peran yang besar kepada kaum perempuan untuk terus menentukan nasib umat, seperti halnya Ummu salamah yang telah memberikan nasehat berharga pada nabi SAW. Ketika menghadapi situasi yang kritis pada masa penyebaran islam Umulmu’minin “Aisyah binti Abu Bakar” gadis kecil nabi dengan julukan humairah ini banyak mengkoleksi hadist dan dan di beri kepercayaan penuh untuk meriwayatkan.
Sebagian besar koleksi hadits yang sampai pada kita diriwayatkan oleh perempuan namun kaum muslim yang hidup dalam perangkap kejahiliyahan masa kini dan masa lalu selalu membatasi hak asasi perempuan muslim atas nama agama.
Siapa yang tidak kenal St. Khatijah sebagai penguiasa sekaligus istri Nabi yang sangat beliau cintai disamping mad supported nabi dia juga tidak segan-segan menginvestor kan hartanya untuk perjuangan islam. Atau mungkin anda masih ingat kisah Robiatul Al-Adawiyah wanita sufi yang mengorbankan matanya karena saking takut akan berbuat maksiat pada sang khaliq mereka semua adalah penegakdan pejuang islam yang patut dijadikan suru tauladan.
Wanita tidak lagi dimarjinalkan
Tidak sedikit dari ywanita yang berkarier menurut kamus bahasa Indonesia (depdikbud, 1988) karier adalah perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan peran wanita semakin penting baik di lingkungan keluarga maupun di bidang social politik demikian juga di bidang ketatanegaraan, semakin banyak tenaga kerja wanita yang memasuki pasar kerja dan menduduki jabata-jabatan penting oleh karena itu perempuan tidak harus mender atau merasa termajinalkan dari pada kaum laki-laki jelas dalam al-quran tentang kesejajaran antara perempuan dan laki-laki firman Allah yang artinya :
“Dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan sesungguhnya usaha kamu memang berbeda, adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan pahala yang terbaik (syurga) maka kami kan menyiapkan baginya jalan yang mudah dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak kami kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. (Qs. Al-lail 3:10)
Ayat diatas menyebutkan laki-laki dan perempuan dalam kosam yang merupakan bukti (Qarinah) bahwa islam melihat persamaan antara keduanya yang perbedaannya hanya terletak pada perbuatan amalnya, apakah baik atau buruk namun, perlu diingat meskipun demikian tidak bisa dipungkira “seorang perempuan tidak boleh melampaui qodrat yang sudah di tetapkan oleh syariat islam”.
Oleh: Lil@As@
Bettet, 10 Mei 2009
AlumPimnis@ Al-Raja
Bettet, 10 Mei 2009
AlumPimnis@ Al-Raja
*) dimuat di Majalah KOPI Edisi 10 Versi Cetak
0 komentar:
Posting Komentar